Sampah Angkasa Makin Berbahaya

Jumlah sampah yang mengorbit Bumi dinilai bisa saling bertabrakan, yang pada gilirannya akan menambah jumlah pecahan sampah. Ini semua menambah risiko kerusakan pada pesawat-pesawat antariksa.

7 Pelajaran Dari Air

Air yang Kotor akan Terlihat Jernih saat Mengalir Deras

Tips Menghadapi SNMPTN

SNMPTN sudah dekat Sobat. Sudah siapkah kalian ??? Apa aja yang perlu kalian siapakan. Semua ada di sini.

Pengakuan dari Setan !!! Nyata !! (Video)

Mereka merupakan makhluk cerdas dengan berbagai tipu daya untuk menjerumuskan manusia pada kemaksiatan. Seperti apa cara mereka ???

Misteri dan Rahasia Adzan Shalat Subuh

"Ash shalaatu khairun minan naum" Jika kita terjemahkan, akan berarti "Sholat itu lebih baik daripada tidur". Tetapi coba perhatikan baik baik. Mengapa kalimat itu hanya dikumandangkan saat adzan subuh saja?

Rabu, 07 Maret 2012

Manfaat Olahraga Pada Malam Hari

Sulit bangun pagi atau tak sempat berolahraga di pagi hari? Luangkan saja waktu untuk berolaharaga pada sore atau malam, sepulang kerja.

Beberapa penelitian menunjukkan kalau olahraga pada pagi hari lebih efektif membakar kalori dibandingkan sore atau malam hari. Tapi, ada empat keuntungan yang bisa Anda dapatkan jika menutup hari dengan berolahraga. 



Berikut empat manfaatnya, seperti dilansir FitSugar.

Pilihan sehat dan hemat
Mengikuti kelas aerobik atau dansa sepulang kerja, merupakan pilihan tepat dan sehat. Ini membuat Anda teralihkan dari aktivitas yang justru tidak sehat. Seperti, minum-minum, makan malam di luar, atau berjam-jam menonton televisi sepulang kerja.

Tidur lebih lelap
Jika Anda termasuk orang yang justru lebih berenergi pada malam hari, lakukan saja senam di rumah atau latihan kardio dengan treadmill. Begitu juga saat sulit tidur. Olahraga akan membuat Anda tidur lebih mudah dan saat bangun pagi dengan segar.

Lebih konsisten
Telah mencoba olahraga pagi hari tapi tak bisa konsisten? Cobalah untuk mengganti waktu olahraga. Dengan waktu olahraga yang pas dan membuat Anda nyaman, latihan pun cenderung dilakukan dengan lebih konsisten.

Mengurangi level stres setelah bekerja
Tumpukan pekerjaan dan deadline selalu menimbulkan stres. Olahraga adalah cara paling tepat untuk menurunkan level stres. Jadi, setelah penat bekerja, kembalikan fokus pikiran energi Anda dengan berolahraga.

Sumber : vivanews.com

Alasan di Balik Cegukan

Semua orang pernah merasakan cegukan, terutama pada anak dan bayi. Bagi sebagian orang, cegukan merupakan refleks yang sangat mengganggu, sehingga berusaha dihilangkan dengan berbagai obat dan terapi. Seorang peneliti Kanada menemukan alasan konkret mengapa orang mengalami refleks cegukan.

Dr Daniel Howes Kingston dari Ontario Kanada, mengatakan, cegukan berhubungan dengan awal kehidupan saat seseorang membutuhkan ASI cukup. "Cegukan dipicu oleh adanya udara di perut," tulis Howes, Dokter di Kingston dan seorang profesor di Universitas Queen dalam laporannya.

Dia melanjutkan, "Cegukan merangsang asupan tajam khas dari refleks yang menyebabkan udara tertelan dan mengeluarkan sendawa dari bayi yang baru menyusu. Ini memungkinkan bayi mengonsumsi volume susu dan makanan yang lebih besar," ujarnya seperti dikutip Canada.com.

Menurut dia, cegukan pada orang dewasa jarang terjadi. Cegukan pada orang dewasa menunjukkan refleks yang tertinggal dari masa bayi atau pengingat tubuh bahwa seseorang mungkin makan terlalu cepat.

Cegukan pada manusia umum terjadi, namun pada studinya yang dimuat dalam BioEssays jurnal, Howes menyebut tidak ada penjelasan memuaskan mengapa refleks cegukan terjadi. Hipotesis hanya menjelaskan mengapa cegukan lebih sering terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa.

Pada bayi, Howes mencatat sebagian bayi menghabiskan 2,5 persen waktu mereka dengan cegukan. Ia juga menekankan, episode cegukan yang berlangsung 48 jam bisa menjadi indikator kondisi yang lebih serius. "Tetapi lebih sering cegukan hanya dianggap gangguan kecil dan tidak memiliki tujuan," tuturnya.

Refleks pada kebanyakan mamalia membutuhkan berbagai mekanisme penyembuhan, dari meneguk air dengan cepat hingga menahan napas yang sering menjadi pengobatan turun temurun.


Sumber : vivanews.com

Pulau Jawa Ladang Bencana, Mengapa?

Dari ukurannya Jawa hanyalah pulau terbesar kelima di Indonesia. Namun, ia menjadi rumah bagi 60 persen penduduk negeri  ini.  Posisinya yang berada di jalur “cincin api” atau Ring of Fire membuatnya rentan bencana  gempa bumi dan gunung meletus.

Belum terhapus dari ingatan, pada 26 Oktober 2010 Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah meletus, memporakporandakan kawasan lereng gunung, dan merenggut ratusan nyawa, termasuk sang juru kunci, Mbah Maridjan.

Sebelumnya,  gempa 7,3 skala Richter mengguncang Tasikmalaya, Jawa Barat pada Rabu 2 September 2009. Guncangan lindu terasa sampai Jakarta, menimbulkan kepanikan luar biasa, dan korban tewas.  Juga tsunami dipicu gempa 8,9 skala Richter di Pangandaran dan Cilacap yang menewaskan ratusan nyawa, 17 Juli 2006. Tak ketinggalan gempa tektonik 6,2 SR yang merenggut banyak nyawa di Yogyakarta, 27 Mei 2006.
Bencana bakal terus membayangi Jawa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bahkan mencatat, bencana di Indonesia memang terkonsentrasi  di pulau ini. Rata-rata dari 2002 hingga sekarang, lebih 50 persen kejadian bencana terjadi di  Jawa. Pada  2011, dari 2.066 kejadian bencana, sekitar 827 bencana (40%) terjadi di Jawa.  Diproyeksikan tren bencana dan dampaknya di masa mendatang makin besar.

"Tentu saja menjadi tantangan pembangunan karena bencana dapat menjadi faktor penghambat pembangunan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam rilis yang disiarkan 6 Maret 2012. "Bencana menyusutkan kapasitas produktif dalam skala besar yang berakibat kerugian finansial karena bencana membutuhkan pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi agar kehidupan ekonomi kembali normal."

Bencana juga memiliki dampak negative-sum game. Suatu wilayah yang terkena bencana mengalami kemunduran ekonomi. Sementara wilayah yang tidak terkena bencana tidak mengalami kemajuan ekonomi.

Mengapa Pulau Jawa makin rentan?

Ternyata tak melulu faktor alam. Tapi juga kebijakan pembangunan yang membuat Jawa makin padat dan rusak. Kebijakan yang keliru ini menimbulkan kesenjangan pembangunan ekonomi antar daerah di Jawa dan luar Jawa yang menganga lebar.  “Ini menyebabkan urbanisasi terus meningkat. Sekitar 129 juta jiwa atau 59% penduduk Indonesia tinggal di Jawa. Akibatnya terjadi ekstraktif pembangunan yang menyebabkan kerusakan lingkungan,” kata Sutopo.

Hutan pun makin menipis, tinggal sekitar 13 persen dari luas Jawa, padahal idealnya 30 persen. Kecenderungan tersebut akan mengancam daya dukung lingkungan, sehingga dalam jangka panjang diperkirakan akan memicu terjadinya tiga macam krisis, yaitu krisis air, pangan dan energi.

"Terbukti, daya dukung lingkungan Jawa sudah terlampaui saat ini. Akibatnya watak hidrologi sungai-sungai di Jawa telah berubah dan mudah terjadi banjir dan kekeringan. Analisis risiko bencana menjadi faktor penting dalam perencanaan pembangunan."

Makin padat, makin banyak korban

Pakar Gempa dari Puslit Geoteknologi-LIPI, Danny Hilman Natawidjaja, mengatakan, pada prinsipnya bencana adalah gabungan baik dari gempa, banjir, longsor, dan sebagainya. “Pihak BNPB seharusnya punya data kongkrit tentang bencana apa saja dan penyebabnya sehingga bisa keluarkan rilisan seperti itu,” kata dia saat dihubungi VIVAnews.com, Rabu 7 Maret 2012.

Khusus soal gempa, Danny mengakui efek goncangan akan tergantung dengan daerahnya. Terutama menyangkut korban. “Gempa di populasi sepi penduduk, tentu efeknya tidak akan sama seperti gempa di populasi padat.  Seperti di Yogyakarta, disebutnya gempa besar karena banyak korbannya,” dia menambahkan.

Danny mengatakan sulit untuk memprediksi, bencana apa akan terjadi di mana. “Karena bisa saja tiba-tiba ada gempa di Maluku, Kalimantan, atau bahkan di Jawa".

Untuk Jawa, kemungkinan terjadinya gempa ada di banyak tempat. “Karena di Jawa banyak patahan. Ada patahan di dekat Semarang, ada di dekat Surabaya, dan ada juga di dekat Jakarta,” ujarnya.

"Tentu saja itu dengan kriteria berbeda. Misalnya, untuk daerah di pantai Barat dan Selatan Pulau Jawa, itu rawan terjadi gempa tektonik. Sedangkan daerah yang banyak gunung berapi itu rawan bencana vulkanik. Sementara, untuk bantaran sungai karena banyaknya bermunculan pemukiman penduduk," kata Kepala BNPB Syamsul Maarif di Surabaya, Jumat 2 Maret 2012.

Terkait itu, pihaknya meminta semua pihak meningkatkan kewaspadaan. Misalnya, jika hujan turun terus menerus dan memungkinkan terjadi banjir dan tanah longsor diminta untuk segera menghindar. "Jika seperti itu masyarakat harus waspada," dia melanjutkan.

Saat ini di Indonesia ada enam gunung berapi yang diwaspadai karena aktivitas vulkaniknya meningkat  hingga level siaga. Untuk wilayah sungai perlu diwaspadai akibat banyaknya muncul pemukiman penduduk.

Sumber : vivanews.com